Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Maslow (Makna Hidup)
Ada banyak cara yang dapat ditempuh sesorang untuk bertahan hidup.
Jalanin hidup dari bangun pagi nyiapin sarapan lalu berangkat kerja dan fokus memenuhi kebutuhan harian sudah jadi rutinitas.
Kamu bekerja untuk menghasilkan uang agar tidak kurang makan, kamu cari kawan agar tidak kesepian, hingga mencapai prestasi tertentu agar dapat dihargai oleh orang lain.
Tetapi rasanya kita seolah terlalu di kendaliin oleh kebutuhan dan kekurangan, akhirnya merasa kurang dalam hidup ini.
Menjani hidup itu terasa seperti tidak bermakna dan tak ada perkembangan. hampa!
Tahun lalu begitu dan tahun ini sama saja – gitu-gitu aja.
Pemenuhan kebutuhan yang kita kumpul tadi seperti makan, istirahat, membangun hubungan dan mencari pengakuan orang, itu termasuk kebutuhan yang paling banyak dicapai orang.
Jadi tidak heran kebanyakan dari kita tidak mengalami perlubahan hidup dari tahun-tahun sebelumnya.
Terkait masalah yang kita hadapi sekarang ini, ternyata pernah di bahas oleh salah seorang psikolog yaitu Abraham maslow.
Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Maslow (Makna Hidup)
Maslow percaya bahwa tiap orang termotivasi untuk memenuhi kategori dasar kebutuhan yaitu, fisiologi, keamanan, cinta, harga diri dan aktualisasi diri.
Teori ini di kenal sebagai Hierarchy of needs atau Maslow’s Pyramid of Needs.
Piramida kebutuhan maslow pertama kali di perkenalkan dalam makalah “A Theory of Human Motivation” di tahun 1943 dan maslow kemudian menyempurnakan teorinya dalam buku “Motivation and Personality di tahun 1954, hingga pada saat itu, teori piramida maslow menjadi populer di kelas sosiologi (), pelatihan manajemen dan psikologi.
Meski cukup kuno tapi, saya rasa ini masih lumayan relevan diterapkan di jaman sekarang agar kita dapat mencapai hidup yang bermakna.
Maslow sendiri dikenal sebagai pencetus psikolog humanistik, sebuah konsep bepikir yang berupaya memanusiakan-manusia.
“kita tuh bagusnya seperti apa buat jalanin hidup ini agar bahagia”.
Lewat psikologi, Maslow pecaya manusia dapat mencapai yang namanya kebahagiaan, kesehatan mental dan baik secara psikis maupun psikologis.
Nah! Dalam piramida segitiga sederhana Maslow membagi lima bagian secara universal.
1. Kebutuhan Fisiologi Atau Kebutuhan Fisik Dan Tubuh
Jika kita perhatiin level paling bawah adalah kebutuhan paling mendasar buat manusia bertahan hidup, meski tidak tercapai sepenuhnya, tidak jadi masalah, asal kita udah merasa cukup.
Nah! Dibagian bawah ini jika udah terpenuhin kamu dapat naik level berikutnya.
Piramida ini seperti naik level permainan, kita tidak bisa naik level 3 bila belum memenuhi level 2 dan tidak bisa naik level 4 bila level 123 belum terpenuhi, hingga sampai level lima yaitu aktualisasi diri perlu memenuhi level 1234.
Persfektif lebih modern, level ini tampak tumpang tindih. Ketika seseorang dapat mencapai tingkat lebih tinggi, motivasi mereka akan lebih di arahkan pada tingkatkatan tersebut.
Meski fokus utama mereka adalah tingkat tertinggi, mereka tentu masih perlu terus mengejar tingkat hierarki kebutuhan yang paling rendah dengan intensitas atau jumlah yang lebih sedikit.
Kebutuhan fisiologi sendiri adalah kebutuhan bertahan hidup seperti tempat tinggal, air, makanan, istirahat dan kesehatan. Bisa kita anggap hierarki ini ada karna insting manusia heheheee…
Tak lupa pula Maslow memasukkan reproduksi seksual dalam hierarki fisiologis karna penting buat kelangsungan hidup dan perkembangan spesies.
Anggap aja jika misal seseorang sangat lapar, tentu mereka akan sulit fokus pada hal lain. Begitu pula kebutuhan tidur yang cukup. Secara garis besar ini adalah kebutuhan esensial.
2. Kebutuhan akan Kemanan
Pernah tidak kamu sampai di kampus, di tempat kerja ataupun tempat tertentu dan lupa mengunci rumah. Kamu pun memutuskan untuk menjeda aktivitas dan bergegas naik motor ke rumah.
Nah! Sekenario ini termasuk kebutuhan akan rasa aman.
Contoh lain ingin bebas finansial, maka jalur ditempuh adalah dengan bekerja, nabung, investasi dan sebagainya.
Bahkan di masa kanak-kanak kita butuh lingkungan yang aman, bila belum terpenuhi kita mulai merasa takut dan cemas.
Ketika dewasa pun dalam keadaan darurat kita juga menghindari perang, bencana dan musibah tertentu.
Meski dibeberapa kasus kita cenderung menyukai hal-hal yang sudah dikenal.
Tanpa sadar ini juga jadi alasan seseorang membeli asuransi dan membuat rekening tabungan.
Dari kebutuhan ke-1 dan ke-2 Maslow mengaggapnya sebagai kebutuhan dasar atau basic nieats.
3. Kebutuhan Akan Cinta Dan Penerimaan
Pada level tiga yaitu kebutuhan akan hubungan sosial, cinta dan ingin diterima.
Kebutuhan ini biasanya dapat ditemui dalam lingkungan keluarga, kawan, kerbat ataupun pasangan hidup.
Yang penting kebutuhan ini mencakup perasaan dicintai dan cinta terhadap orang lain.
Beberapa penelitian tertentu telah mendapati bahwa kebutuhan cinta dan rasa memiliki, itu berdampak pada kesejahteraan dan hubungan sosial yang terkait kesahatan fisik.
Sebaliknya bila ini tidak terpenuhi atau seseorang terisolasi, mereka akan mendapati konsekuensi negetif bagi kesehatan dan kesejahteraan.
Nah! Untuk menghindari kesepian, stres, depresi dan kecemasan.
Maka penting buat kita untuk merasa dicintai dan diterima di lingkungan seperti masuk dalam kelompok kegamaan, komunitas olahraga, klub buku dan kegiatan kelompok lainnya.
“manusia adalah makhluk sosial”
4. Kebutuhan Akan Penghargaan
Selanjutnya pada tingkat ke-4 dalam hierarki Maslow adalah kebutuhan akan penghargaan, apresiasi dan rasa hormat dari orang lain.
Kebutuhan penghargaan berperang penting dalam motivasi prilaku seseorang.
Entah itu kamu mencapai perestasi di sekolah, mendapat ipk tertinggi di kampus dan menyelesaikan proyek gedung sepuluh tingkat.
Semua mununjang motivasimu jika orang memberimu penghargaan ataupun rasa hormat.
Rasa pengakuan akan perestasi dan pencapaian membuat diri kita sendiri merasa udah memberi kontribusi terhadap dunia.
Disisi lain hal-hal seperti harga diri dan nilai pribadi termsuk juga kebutuhan akan penghargaan.
Mereka yang telah mendapat pengakuan dan harga diri yang baik dominan merasa pecaya dengan kemampuan mereka.
Sebaliknya, ketika kebutuhan harga diri tidak terpenuhi, seseorang mungkin mengalami apa yang disebut oleh psikolog Alfred Adler sebagai “perasaan rendah diri”.
Secara sederhana kita butuh akan rasa hormat dari orang lain dan juga butuh akan rasa hormat terhadap diri sendiri.
Nah! Pada level ke-3 dan ke-4 Maslow anggap sebagai kebutuhan psikologi.
5. Kebutuhan Akan Aktualisasi Diri
Oke, kebutuhan ter-akhir yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri (makna hidup) atau kebutuhan untuk hidup sesuai pontensi yang kamu miliki sepenuhnya.
Tiap-tiap orang tentu berbeda, unik dan memiliki fitur aktualisasi diri yang tampak berbeda untuk tiap orang.
Aktualisasi diri pada dasarnya mengacu kepada keyakinan kita, perasaan bahwa apa yang kita lakuin itu seharusnya kita lakuin atau singkatnya potensi diri.
bagi Maslow, pencapaian aktualisasi diri terbilang telatif jarang ditemui dilingkungan.
Ini pula saya beranggapan mereka yang memiliki hidup gitu-gitu aja tak ada perkembagnan dan kurangnya makna hidup, semua bersumber dari ketidak terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri.
Kebanyakan orang jarang mencoba menggali potensi mereka. “saya tuh bagusnya dimana”.
Beberapa contoh individu terkenal yang mengaktualisakian diri seperti, Albert Einsten (Ilmuan Fisika), Abraham Lincoln (Presiden), Dr. Zakir Naik (Public Kegamaan), Bill Gates (Microsoft) dan Elon Musk (Teknologi Tesla).
Untuk itu penting buat kita untuk menggali potensi dan mencapai apa yang disebut sebagai versi terbaik diri kita sendiri.
Secara umum, aktualisasi diri adalah mengejar pertumbuhan pribadi agar hidup lebih bermakna.
“Berdamai dengan diri sendiri dan menjadi apa yang dikehendaki oleh diri kita”
Dari ke 5 kebutuhan tadi, Maslow menganggap 4 kebutuhan terbawah (fisiologi, keamanan, cinta dan penghargaan) termasuk dalam kategori kebutuhan yang distimulus atau didorong oleh adanya rasa ketidakpuasan, merasa kurang akan sesuatu atau bisa dikata rasa takut dan cemas dengan keadaan (sikon).
Seperti kita makan karna lapar atau minum karna haus, kita kesepian karna butuh kawan, kita takut karna butuh rasa aman.
Singkatnya ini adalah kebutuhan karna merasa ada yang kurang.
Dan paling atas yaitu aktualisasi diri atau rasa ingin hidup sesuai dengan potensi yang kamu miliki.
Jadi, kita tidak hanya sekedar butuh rasa aman dan nyaman aja.
Namun kita juga butuh buat ngembagin potensi diri atau kebutuhan akan menjalani hidup sesuai potensi.
Mungkin banyak dari kita jalanin hidup, tidak sadar bahwa kita butuh tuh! Buat seimbagin ke 5 hal tadi.
Anggap aja, ada orang semata-mata berdoa aja terus atau hanya fokus pada sesuatu yang buat ia bahagia dan acuh terhadap kondisi finansial mereka.
Begitu pula mereka yang terlalu materialistis, semata-mata hidup untuk bekerja dan mungkin mengabaikan kebahagiaan mereka.
“waktu adalah uang”
Spritualitas dan materilitas perlu di seimbangin.
Maslow mengingatkan kita dengan ringkasan terstruktur tentang bentuk hidup yang idel dan yang lebih baik tuk di jalanin.
Maslow mengusulkan bahwa kita tidak bisa hidup hanya dengan penggilan spritual saja, tatapi juga tidak baik untuk tetap fokus pada materi.
Sehingga dengan jelas maslow membantah panggilan fanatik: tipe spritual yang terlalu fokus dan mungkin mendorong seseorang untuk melupakan sepenuhnya tentang uang, pekerjaan, rumah, biaya hidup dan cukup membayar makan siang.
Ia juga berjuang melawan pragmatis yang keras kepala yaitu mereka yang menyiratkan bahwa hidup hanyalah proses kasar, dimana seseorang meletakkan makanan di atas meja dan berangkat ke tempat kerja.
Seringkali, disaat tertentu kita dapat merenungkan dan menjadari bahwa ternyata kita belum benar-benar mengatur dan menyeimbangkan kebutuhan dengan bijak.
Itu menurut Maslow!
Kita dapat merasa bahagia dan memiliki karier yang bagus di saat yang sama.
Secara mendasar menusia memang butuh kerjaan yang dapat menghidupinya, bersamaan dengan itu kita pun perlu mengembangin potensi diri agar hidup lebih bermakna.
Kadang kita suka tidak sadar hanya fokus buat mencari aman aja, yang sebenarnya kita pun perlu yang namanya aktualisasi diri.
Mungkin kamu merasa hidup ini kurang bermakna atau sama sekali tidak bermakna. Sebab karna kamu belum memenuhi kebutuhan aktualisasi diri.
Lalu sebenarnya gimana kita dapat mempraktekin teori Maslow agar dapat memiliki hidup yang lebih bermakna dan dapat bahagia.
Beberapa tips yang saya ketahui di kutip salah satu video satu persen:
Pertama itu, jadilah fleksibel dan juga stabil.
Teori primida maslow mengajarkan kita buat nglakuin hal-hal kamu pengen buat memenuhi kebutuhan aktualisasi diri.
Bersamaan dengan itu kita juga butuh dengan hal-hal yang bersifat materialistis seperti, uang, makanan, minumam, istirahat, penerimaan dan hubungan sosial.
Jadi cara agar ke dua hal ini tercapai kita perlu memiliki tujuan stabil dan fleksibel dalam mengekspos diri.
Nah! Goals atau tujuan yang stabil itu kamu mengetahui dengan jelas keinginanmu dan mengetahui perkembangan disekelilingmu, cobalah sensitif terhadap perubahan.
Setalah kamu mengetahuinya, kamu tentu bisa ngeliat apa yang perlu ada dan tidak ada buat perkembanganmu.
Singkatnya apa yang sebenarnya kamu butuin agar berkembang.
Tidak sedikit dari kita belum memiliki goals atau tujuan akan nilai, sehingga tidak heran mereka kurang bahagia dan hampa dalam hidup ini.
Mereka merasa tidak cukup dan kurang akan sesuatu, mereka lebih sering memandang orang lain lalu ngebandinginnya dengan diri mereka sendiri.
Pada akhirnya mereka melihat orang lain punya prestasi dan bersamaan mereka juga melihat diri B*d*h atau melihat orang lain punya karier dengan gaji tiga digit dan mereka pun merasa miskin.
Padahal jika kita prihatian, tiap-tiap orang itu memiliki tujuan yang tidak sama, sehingga wajar usaha juga beda dan yang dihasilin pun beda.
Nah! Pada bagian ngekspsos diri, kita perlu menggali potensi diri dengan cara yaitu nanyain langsung pada diri.
Apa hal yang kamu rasa paling mendominasi hidup dan pikiranmu selama ini?
Mungkin tanpa sadar tidak sedikit dari kita udah memiliki bakat, minat dan potensi atau memang suka lupa bahwa ini sudah ada.
Bisa saja mereka beralasan bahwa ini tuh nggak bisa dijadiin kerjaan, takut gagal atau nggak ingin mendengar pendapat orang.
Mereka beranggap bahwa lebih baik tidak pernah mempablis karya tulis daripada punya karya tapi di ejek orang, padahal ini tidak selalu negatif. Ada banyak kok sisi positifnya.
Tapi, saat kamu udah sadar apa yang jadi potensimu. Kamu perlu memilih pengalaman yang membuatmu berkembang atau setidaknya pengalaman itu bisa mendorong rasa ingin tahumu.
Ke dua Setelah tuh coba cari tahu apa aja kelebihanmu dan gimana caranya buat manfaatinnya.
Ketika kamu uda nemuin ini, kamu dapat merasa hidup dan menjalanin hidup sesuai pilihanmu.
Jadi, kamu tidak lagi merasa asing terhadap diri sendiri.
Baca Juga: Apa Alasan Kamu Memilih Pekerjaan Ini?
Saat tahu dengan kelebihanmu, kamu juga perlu kembangin dan jangan takut ambil resiko.
Kita boleh merasa takut, cemas dan khawatir dengan hasilnya. Tapi, kita tuh perlu buat ngaktualisasi diri.
Mengambil resiko tidak juga selalu ekstrim atau to the point, tentu ada langkah-langkah bijak buat mikirin rencana dan meminimalisir dampak dari resikio yang kamu piliih.
Menurut Maslow “kebutuhan aktualisasi diri cenderung lebih penting ketimbang kebutuhan untuk merasa aman”.
Untuk itu kita perlu berani sebab tantang ini perlu dilewatin buat perkembangan.
Selanjutnya ke 3 yaitu sadari konflik internalmu.
Apakah kamu mengerjakan hal yang memang perlu kamu kerjakan, jika kamu masih ngelakuin hal yang sebenarnya tidak kamu inginkan.
Kamu akan kesulitan mengspresikan diri.
Misalnya terpaksa lakuin hal yang nggak kamu inginkan, besar kemungkinan kamu merasa tidak jadi diri sendiri dan bahkan merasa terkurung dalam sangkar.
Padahal kebebasan adalah hal penting agar kamu dapat berkembang.
Kalau kamu ingin berdamai dengan diri sendiri, kamu perlu lakuian hal-hal yang sesuai dengan potensimu.
Jadi, lakuin apa yang kamu suka, kamu mampu dan itu dapat kamu nikmati, dengan catatan itu tidak melanggar etika, moral dan agama.
.jpg)
Posting Komentar untuk "Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Maslow (Makna Hidup)"
Posting Komentar