Alasan Orang Miskin Suka Maksa Beli Barang Mahal!
Dalam lingkup dunia dimana kita hidup sekarang sudah tak terasa terjadi yang namanya pengelompokkan.
Meski secara halus tapi itu terasa tajam mengena buat sebagian besar orang. Abad modern mengajarkan kita akan banyak perubahan dan dilain sisi memberi pula beberapa dampak negetif.
Dampak yang cukup mengena khususnya orang miskin, mungkin sebagian dari kita menganggap orang kaya atau orang miskin di ukur dari ketebalan dompet mereka.
Orang kompoten hanya dilihat dari apa yang mereka gunakan ataupun barang yang mereka pakai.
Budaya moderen memudahkan kita menjudge atau mendefeniskan seseorang dari tampilan luarannya saja.
Akhirnya yang sering kena imbas adalah orang miskin yang berharap mendapat keadilan sosial dengan cara membeli barang mahal, mereka beranggapan setidaknya dapat keliatan sukses.
Yang cukup menjadi perhatian disini adalah para remaja yang masih tanggungan orang tua berusaha tampil lebih menawan daripada kehidupan yang sebenarnya. Mereka membeli barang mewah buat flexing atau sedikit pamer.
Ada banyak alasan dan keinginan seseorang buat memperbaiki suasana.
Kita lebih sering memilih sesuatu dikata terbaik yang memberi kebahagiaan, tapi itu sebenarnya membutakan kita terhadap hidup yang bermakna.
Alasan Orang Miskin Suka Maksa Beli Barang Mahal! (Khusus Remaja)
Persepsi maupun sudut pandang yang udah menjadi pengetahuan umum menyebar di internet menjadi bumeran berbahaya dalam menemukan kebahagian dibalik layar hitam _ senyum dibalik penderitaan.
Itulah, kenyataan yang tidak ingin didengar tapi dibutuhkan oleh banyak orang khususnya mereka menengah ke bawah dan masih remaja milenial.
Beberapa kondisi alasan orang miskin suka maksa beli barang mahal:
1. Anggapan Kualitas Lebih Baik Dan Kebahagiaan Bertambah
Kaca mata kita udah cukup sering terpapar dunia maya ketimbang kenyataan yang ada, sudah menjadi rahasia umum bahwa menjadi soroton publik termasuk alternatif menemukan kebahagiaan.
Sayangnya yang berusaha mencari sorotan lebih banyak orang menengah ke bawah (miskin) ataupun orang kaya baru (OKB). Cukup jarang bahkan sangat sedikit orang yang benar-benar kaya ingin menjadi sorotan.
Fokus kita kali ini adalah mereka yang belum memiliki kebebasan finansial stabil tapi, malah memilih memaksakan jalan pintas buat menemukan kebahagian.
Semisal membeli barang mahal berkualitas untuk memperoleh kebahagiaan lebih. Parahnya kondisi keuangan lagi kirisi berani nyicil motor 50% dari gaji pokok, mereka berusaha mencari kebahagiaan padahal ada banyak tanggung jawab mulai anak, istri sampai kebutuhan pokok.
Tapi ternyata banyak orang mencari jalan pintas kebahagiaan dengan membeli barang mahal…
2. Flexing Atau Pamer
Imbas yang cukup berdampak besar tentang pamer banyak tumpah ke orang miskin, mereka suka bergaya dan pura-pura lupa dengan hal yang benar-benar mereka butuhkan.
Kebanyakan dari mereka mementingkan gensi agar terlihat lebih modis dan disegani, demi mementingkan gengsi mereka bahkan rela berbuat apapun untuk dapat tampil menarik.
Yang jadi perhatian adalah di kalangan remaja, mereka berperilaku komsumtif. Menurut Mowen dan Minor (2002). Perilaku konsumtif adalah perilaku yang tidak memiliki pertimbangan rasional, kecuali itu hanya untuk membeli pruduk barang dan jasa buat mendapatkan kesenangan ataupun perasaan emosi.
Berdasar sebuah suvey lapangan ditemukan sebanyak 84,2% dari 1.104 anak muda sudah biasa melakukan pembelanjaan konsumsi dengan tujuan gengsi semata.
Bisa dikata banyak dari kita khusus remaja melewati jalan pintas gensi flexing atau pamer agar disegani dan merndapat rasa hormat di lingkungan sekitaran.
3. Membeli Barang Brand
Dalam dunia perkastaan modern maupun dunia maya, semua cukup tampak nyata dengan adanya penggunaan, pemakain dan pembelian barang-barang mahal.
Barang mahal sendiri memberi tahu bahwa lo kaya atau kamu masuk dalam kelas sosial tertentu. Sekarang ini pertemanan kita cukup diuji dengan materi.
Memang kita mudah terperangkap oleh hawa nafsu yang selalu berusaha memenuhi keinginan dan hal ini kadang membuat kita kelewat batas, lebih banyak keinginan daripada kebutuhan yang terpenuhi.
Sikap memaksakan diri untuk mengikuti brand atau tren anak mudah masa kini, membuat kita lupa dan kehilangan prinsip hidup atau mungkin memiliki prinsip tapi itu sangat rapuh.
Semakin banyak trend yang marak di sosial media menjadi salah satu pemicu sehingga kita ingin tampil menonjol daripada teman-teman sebaya.
Kita sering mengalami kebocoran dana gara-gara menjadi pengikut trend masa kini, anggap aja seperti orang-orang diluaran sana ikut trend dengan berpakaian ala-ala orang luar negeri.
4. Alasan Barang Seni Dan Spritualitas
Irama melodi yang cukup banyak melirik dimata publik sehingga tanpa sadar kita ngeklik pesanan di sebuah toko online adalah barang yang dianggap memiliki nilai seni.
Barang yang tampak mempesona dimata kita akan lebih mudah membius logika berpikir, bila ditanya oleh orang awam “kamu membeli ini buat apa”.
Jawabanya yang muncul “ini menyejukkan mata buat dipandang”.
Anggap aja orang lebih suka membeli merek daripada fungsi dari barang itu sendiri.
Ini boleh-boleh saja bila udah bebas finansial, sayangnya cukup banyak orang miskin terjerat akibat anggapan ini memiliki nilai seni, padahal ada sesuatu yang lebih mendesak dan lebih dibutuhkan.
Dibeberapa waktu lalu suatu unggahan yang menggugah pikiran saya, peristiwa yang cukup viral di negeri seberang seorang pria menyamar kalau tidak salah, ia menyamar sebagai pria tua kemudian melempari sesuatu ke sebuah karya seni yang di agung-agungkan oleh banyak orang.
Lukisan yang ditunggu-tunggu, mata menyorot dan kamera siap live action, ini terjadi begitu cepat salah seorang tertengkap basa dan memang ia sengaja melempari lukisan itu, meski tidak terjadi masalah serius karna lukisan dilapisi kaca anti peluru.
Bagian yang jadi pertanyaan adalah apa alasan dari pria yang menyemar tadi melempari lukisan tadi dan mengakibatkan kepanikan di khalayak publik..
Jawabannya teryata cukup membuat orang-orang sadar, ia sejujurnya melempari lukisan gara-gara terlalu banyak orang terlalu terpaku, menyoroti dan meluangkan waktu untuk lukisan, padahal ada banyak orang diluar sana butuh perhatian bahwa ada anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua sekarat hingga mati kelaparan.
Inilah terjadi sekarang, kondisi kita kadang membalikkan badan pada mereka yang lebih membutuhkan, dimana parahnya kita menjadi manusia arogan dan rapuh dalam hal membantu sesama.
5. Alasan Investasi
Pernah tidak kamu membeli suatu barang dengan alasan investasi, meski itu mahal tetap aja maksa. Untuk diri saya pribadi pernah!
Saya termasuk orang korban pembelian barang mahal karna alasan investasi, bisa kamu anggap saya korban iklan heheee…
Itupun saya pada waktu itu belum memiliki finansial yang stabil, hidup pas-pasan dengan gaji minim tidak menetap.
Jika mengulasnya saya membeli sebuah gelas seharga 300 k dengan alasan investasi artinya ini bisa kok dijual kembali!
Tahu tidak apa yang terjadi selama beberapa bulan. Saya hanya ber-alasan saja!
Ungkapan dalam suatu iklan yang tumpah dimana-mana, membutakan logika berpikir apakah ini benar-benar saya butuhkan atau mungkin tidak harus semahal itu buat investasi.
Yah! begitulah manusia suka mendaftar di awal dan menyesal di akhir.
Jika dipikir di lingkup pekerjaan, ini boleh-boleh saja semisal review produk atau memang membeli sebuah laptop karna pekerjaan dan di tahun-tahun berikutnya akan dijual kembali buat membeli versi terbaru.
Bagi saya ini termasuk investasi yang wajar…
Orang-orang juga bisa memiliki Semua alasan untuk membeli barang mahal dari mencari kebahagiaan, pamer, brand, seni sampai pada investasi!
Yang jelas tujuannya gimana…
Orang miskin juga butuh hiburan, pengakuan dan validasi. Barang mahal bisa menjadi sedikit hiburan di atas kesengsaraan
Namun kunci pertanyaannya adalah apakah wajar kita membeli barang mahal?
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli barang mahal dan midsed tambahan:
1. Lebih Baik Beli Pengalaman
Bila kita berkesempatan buat ngumpulin semua orang di muka bumi dari level terbawah sampai level teratas.
Di satu panggung dunia kamu memberi mereka sebuah pertanyaan sederhana yaitu apakah kamu ingin bahagia!
Percayalah entah bagaimana orangnya ia ingin mencapai yang namanya kebahagiaan…
Kebahagiaan pun memiliki defenisi berbeda bagi tiap orang, begitu pun kamu yang lagi membaca artikel ini dan tak terkecuali diri saya pribadi.
Modal mencari hapines pun buat abad modern pelariannya di material dan terkhusus populasi terbanyak umat manusia menengah ke bawah, mereka lebih suka mencari kebahagiaan yang sifatnya material.
Materi memang baik jika itu masih dalam jangkuan keuangan. Tapi, jika dengan alasan murahan semisal ingin pamer, cari perhatian dan hal-hal dangkal yang sifatnya sementara ini mesti ditinggalkan.
Misal kamu berusaha nabung buat memiliki ponsel terupdate, saya percaya dua tiga bulan ponsel kamu terasa biasa aja, meski awalnya menjadi salah satu impian dan terasa luar biasa ketika kali pertama ada ditangan, namun seiring waktu perasaan ini ternyata sementara doang.
“Membeli barang mahal dengan alasan murahan, ini tidak lebih daripada menabung lebih banyak dopamine”. Itupun ini buat kita saja, bisa dikata sensasi awal.
Agar kita tidak terlalu kecewa membeli suatu barang dan jasa mahal-mahal, kita perlu memutar balikkan pemahaman, membeli bukan ingin memiliki saja tapi, memiliki buat mendapat pengalaman.
Artinya belilah pengalaman daripada membeli barang itu sendiri. Pengalaman tentu dapat tersimpan secara permanen dalam memory. Memory pikiran atau kenangan tentu jauh lebih berharga dan akan sangat bermakna.
Kira-kira apa yang paling kamu ingat ketika mengeluarkan uang banyak!
Pertama membeli barang mahal semisal baju seharaga ratusan ribu atau yang kedua keluar jalan-jalan atau camping bersama dengan kawan dengan modal ratusan ribu pula.
Bilamana waktu dipercepat beberapa tahun dan sekarang kamu bertemu kembali dengan kawan, apa kira-kira yang menjadi pembahasan atau pembuka obrolan.
Kamu tidak perlu ragu menjawabnya karna saya juga demikian lebih memilih menceritakan pengalaman camping pada masa-masa kuliah dulu.
Jika memang kita udah pernah menghabiskan uang buat membeli baju ini hanya bersifat sementara.
Harta benda bisa saja lapuk termakan waktu dan usia tetapi memory pengalaman akan selalu menjadi kengangan sepanjang masa.
2. Jangan Cari Validasi
Ada dua hal dalam hidup selalu kita temui yaitu hal yang dapat kamu kendaliin dan hal yang tidak dapat kamu kendalikan.
Hal-hal yang dapat kamu kendalikan umumnya besifat internal seperti hati, pikiran dan tindakan sedangkan hal-hal yang tidak dapat kamu kendalikan biasanya bersifat eksternal seperti lingkungan.
Nah! Uniknya kita lebih sering terpengaruh oleh lingkungan semisal pandangan orang.
Entah bagaimana situasi dan kondisinya kamu memikirkan pandangan orang-orang di sekelilingmu.
Ketika kamu pergi jauh dari kampung halaman seperti keluar daerah, merantau, kuliah, cari uang dan apapun itu saat balik kampung beberapa tahun kemudian.
Bagian teratas yang mudah kita pikirkan adalah pandangan orang, bisa dikata kita mencari sebuah validasi orang lain.
Validasi ini bukan main kita raih agar dianggap tampak sukses dengan membeli mengenakan barang mahal…
Tapi, dibaliknya kita berusaha untuk menutupi kenyataan yang ada!
Bisa saja kita setengah mati meraih validasi orang sekitar dan agak pahit rasanya bila validasi mereka tidak memenuhi harapan_ekpektasi tidak sesuai realita.
Jadi buat apa membawa beban yang memang diluar kendali semisal validasi, kita lebih baik memilih menyikapinya dengan cara santai dan apa adanya.
Menceritakan gemerlap dunia beserta kesenangan dan perjuangan patriot yang tidak pernah dialami dan ini tidak lebih dari ungkapan kebohongan buat menyelubungkan kebenaran yang ada bahwa kenyataan sebenarnya kita hanya memakan indomie sedap kemudian kembali bekerja di awal waktu heheheee…
Ujung-ujungnya kebohongan di akhir kisah akan tercium, jadi jika pada akhirnya menyesal seharusnya kita tidak mengharapkannya sejak awal.
3. Finansial Liat Apa Kamu Aman
Pembunuh kebebasan masa depan dan membuat kita hanya dapat memilih beberapa bukan banyak, saya dapat menunjuk aktor utamanya yaitu finansial.
Perbedaan terbesar mereka bebas finansial dan tidak bebas finansial memberi dampak cukup membuat orang kehilangan harapan.
Kamu misal ingin ke tempat tertentu dan kondisi mengharuskanmu buat menumpahkan sejumlah uang, apa yang terjadi jika kawan kamu meminta pembayaran sepersekian uang buat tiket pesawat dan itu tidak dapat kamu penuhi.
Ada dua pilihan pertama membiarkan kawan duluan aja atau ke dua membatalkan perjalanan secara sepihak.
Nah! Inilah yang saya maksud ada sebuah tiket dalam suatu perjalanan perlu modal, di luar tenaga dan waktu. Kita dapat menghabiskan tabungan untuk melakukan sesuatu tapi ini terbatas.
Apakah mungkin kita membeli tiket pesawat jika pemasukan satu dua juta sedangkan biaya makan minum dan tempat tinggal belum terpenuhi.
Olehnya itu perlu menengok kebelakang tentang bagaiamana keadaan finansial, jika masih aman eksekusi tapi kalau udah gawat darurat yah! Sudahlah jangan maksa.
Itulah mengapa di penghujung akhir usia 30-an jika belum bebas finansial, kita akan mendapat kesulitan membuat pilihan di masa depan nanti.
“pilihlah pekerjaanmu sebelum perkejaan terpaksa kamu pilih”

Posting Komentar untuk "Alasan Orang Miskin Suka Maksa Beli Barang Mahal!"
Posting Komentar