Dampak Dari Sikap Optimis - Baik Atau Tidak
Relita kehidupan yang terus kita jalani memberi gambaran sederhana, gambaran umum yang membedakan kita dalam mengambil keputusan dan berusaha menjalaninya dua bagian tersebut adalah opitmisme dan pesimisme.
Optimis adalah sikap mental yang berfokus pada pengharapan, percaya dan yakin tujuan dapat dicapai. Lain sisi dengan pesimis mengarah pada bagian prakiraan hal-hal buruk yang akan terjadi.
Analogi orang optimis dengan pesimis dapat terlihat dari sudut pandang mereka. Contohnya Apel lambang khusus merek terkenal yaitu Apple. Orang-orang yang bersikap pesimis memandang dunia dengan apel yang sudah rusak oleh satu gigitan sedang disisi lain orang-orang bersikap optimis memandang dunia dari sisi berbeda yang menganggap masih baik.
kita tidak bisa pungkiri bahwa banyak yang kacau sekarang dan tidak sedikit juga kita melihat bagian lain dunia yang damai.
“banyak kondisi alam yang rusak dan ada juga yang masih asri”
Mereka yang optimis melihat kesulitan sebagai satu atau lebih pengalaman belajar. Meski hari terburuk pun masih ada yang dapat dilakukan.
“daripada mengutuk kegelapan lebih baik menyalakan lilin”
Jika kita melihat klise masa lalu, kita dapat melihat beberapa sikap kita dalam memandang dan memilih sesuatu untuk dijalani entah itu perasaan, tindakan maupun pemikiran terdapat dua sikap pilihan optimis dan pesimis yang akan kita pilih.
Sikap optimis memberi kita rasa percaya dan membuka pengalaman baru sedang sikap pesimis adalah pembatas. Ingat bahwa jika kehidupan tampak di luar kendali, kita masih bisa mengendalikan jalan menuju kesuksesan.
"Situasi tidak membentuk kita, tapi situasi menunjukkan siapa kita"
Sikap optimis bukan berarti tidak memikirkan apapun atau membabi buta. Beda berani dengan nekat. Nekat mengambil tindakan tanpa pikir panjang sedang berani mengambil tindakan dengan berpikir sejenak untuk memupuk rasa percaya diri - tau apa yang harus dilakukan dan siap menerima dampak terburuk dari satu tindakan tersebut.
Pada ilmu pertukangan bisa kita analogikan “ukur dua kali, potong sekali”.
Mereka yang nekat selalu memotong tanpa rencana sedang yang berani mengambil kebijakan akan bersikap tenang dan melakukan sekali eksekusi.
Saya punya dua kawan anggap aja namanya Mr. X dan Mr. Y. (diangkat dari kisah nyata)
Mr. X selalu memandang sesuatu dari berbagi sisi negatif, beberapa waktu lalu saya ingin memutuskan untuk camping sendiri ditengah hutan tuk pertama kalinya, ide saya disanggah Mr. X bahwa kamu bisa saja tersesat tidak dapat kembali (mati), belum lagi kamu berada di daerah asing. Mr. X memiliki sudut pandang akan kecemasan dan kekahwatiran berlebih sehingga inti dari pembicaraan, saya tidak boleh camping.
Sisi lain Mr. Y selalu bersikap optimis memandang sesuatu dari segi positif, Mr. Y menganggap ide saya adalah ide bagus, Mr. Y sangat mendukung saya untuk menelusuri panorama alam dan mengenal suasana alam jauh dari kondisi kesibukan orang-orang kota. Intinya pergi aja kamu akan tahu sendiri.
Dari kedua sisi pendapat, kita melihat dua bagian optimis dan satu sisi negatif. Diulas lebih lanjut untuk sisi optimis kita mungkin saja tipe amatiran ingin mengenal dunia baru, meski ada benarnya. Bila saya memutuskan untuk berangkat camping esok harinya kamu dapat membayangkan apa yang terjadi. Tentu saja saya bisa tersesat, hipotermia, dan resiko terburuknya "dead". Mencoba sesuatu yang baru tidak selalu baik, ada hal yang harus di ingat (hati-hati).
Disisi pesimis kita mungkin tipe orang yang lagi lowong ingin mencoba hobi, aktivitas dan pengalaman baru. Namun karna pesimis dan merasa dunia asing atau wilayah baru tidak lebih aman dari dunia sekarang, inipun tidak sepenuhnya benar. Jika, saya memutuskan untuk tidak berangkat camping suatu waktu, saya bisa saja kehilangan moment paling berharga dan berarti dalam hidup.
lalu, apa yang sebaiknya saya ambil dari ke dua pendapat kawan.
Lewat alur yang saya lewati, saya mulai membenahi ke dua pendapat dan sampai pada kesimpulan bahwa mereka tidak salah sama sekali dan tidak benar pula. Saya memutuskan untuk camping pertama kali atau solo camp. Namun, dengan sikap opitimis dan penuh persiapan jika terjadi sesuatu yang tidak diingikan.
Mulai dari persiapan alat-alat camping, itu saya konsul lewat Mr. Y (optimis). Saya ingin camping - “apa yang perlu dipersiapkan”. Butuh kesabaran beberapa bulan kemudian saya camping perdana dan tidak melupakan peringatan Mr. X (pesimis), jika dipikir bagaimana awal saya camping di luar daerah. Yap! Saya mempersiapkan segalanya dan benar-benar lengkap, tas gunung yang saya bawa adalah tas ekpedisi yang cukup besar untuk camping agar semua tertampung.
Apa yang terjadi setelahnya, yang benar saja saya terlalu lengkap di lokasi camping dan bahkan sangat mencolok ditengah orang camping (diperajalanan), cukup memalukan…
Tapi, bagian terbaiknya saya mendapat hobi baru selain sibuk di kota metropolitan, saya juga jadi penikmat alam hingga sekarang.
Maka, saya dapat mengatakan bahwa pandai-pandailah bersikap optimis di situasi tertentu dan bersiap dari hal buruk yang mungkin saja terjadi.
.jpg)
Posting Komentar untuk "Dampak Dari Sikap Optimis - Baik Atau Tidak"
Posting Komentar